14 Nov 2008

“Culture Of Silent” di Tubuh Mahasiswa Tidak seperti biasanya, mahasiswa yang dulu menjadi dewa bagi masyarakat dewa pembebasan, dewa aksi, menjadi agent of change menjelma menjadi dewa silent yang tak tahu kemana arah akan bergerak. Cenderung mahasiswa sekarang ini memiliki “culture of silent” maupun budaya diam yang dengan sadar maupun tidak akan membunuh karakter mahasiswa itu sendiri. Sebuah kenistaan jika mahasiswa hanya menjadi bulan-bulanan kampus, tak ada respon, perhatian dengan sistem-sistem yang langsung menyentuh mahasiswa. Pernahkah lagi kita memperhatikan masalah biaya sekolah di universitas yang begitu mahal? Merespon tindak amoral yang dilakukan karyawan seperti ketidaksopanan terhadap mahasiswa? Advokasi terhadap mahasiswa-mahasiswa yang putus harapan karena biaya? Semua diatas hanya sebuah kata-kata, hanya kita yang menjawabnya. Kadang sikap apatis (acuh) membawa kita dalam belenggu kehidupan yang akan berkelanjutan, implikasinya tidak ada sikap optimis merubah keadaan, merekonstruksi sosiokultur di dalam kampus. “Culture of Silent” maupun budaya diam merupakan seekor predator yang akan membunuh kita secara pelan maupun cepat. Walau ada pepatah mengatakan “diam adalah emas” tapi perlu kajian mendalam dengan hal itu. kata “diam adalah emas” menempatkan diri sesuai konteks yang dihadapinya. Disaat sebuah pembicaraan atau perbincangan tidak merupakan hal penting dan menyita banyak waktu yang seharusnya dimanfaatkan guna menyelesaikan hal yang lebih bermakna maka “diam adalah emas” sebuah kata dan tindakan bijak. Tapi sebaliknya jika kita diam dan terbelenggu dengan keadaan yang mahu tidak mahu mengharapkan kita untuk berbicara maka “diam adalah emas” tidak bijak lagi. Apakah kita masih ingin diam? IMM Komfak Sospol UMY

Tidak ada komentar: