14 Nov 2008

Tukang Becak Pusing Global Warming By: Muh Fitrah Yunus

Sebuah cerita yang mengantarkanku meremukkan tulang bibirku mencoba menggapai impian. Hanya sebuah cerita, sekali lagi hanya sebuah cerita dimana impian tak akan kudapat. Kukobarkan seluruh tenaga bermodal niat dan betis baja, tetesan keringat membasahi wajahku, hampir sekucur tubuhku. Langit pun terasa mendung. Hujan, hujan turun, teringatku hujan yang menguntungkanku dan menyakitiku. Menguntungkanku saat tak tahu lagi dimana kuambil air segar nan sehat membasahi rongga tenggorokanku menambah tenaga spekulatif blue energy bercampur red energy. Sungguh tak menyehatkanku. Kesakitan, sungguh kesakitan yang kualami sungguh menyakitkan. “Ada apa denganmu?” Tanya kawan sesama. Lirikanku padanya seraya menjawab “efek global warming.” Aku yakin kawan sesama tak mafhum global warming. Bahkan ilmuwan pun belum tentu menelannya. “Global warmingku global warmingmu. Scientsmu, scientsku.” Gombalku. Efek pemanasan global merubah semua manusia. Yang berjas dan berdasi melupakan yang berluka. Yang ber-mercy lupa yang bergoyang. Mayor melupakan minor, minor lupa mayor. Mayor hanya menjadi nada pengantar tidur minor sisipkan nina bobok menuju lembaran baru (esok hari). Tah lebih baik atau cukup sudah. Minor pun tak beda. Disenandungkannya nada dingin menghantarkannya ke pelukan angan-angan berangin-angin. “Tidak akan tercapai……., negara yang kacau begini…….” Teriakku. “Global Warming, oh Global Warming.” Sakit! Kuyakin mahasiswa dan teman sebaya banyak tak tahu global warming. Jangan tinggal diam, sejarah kan menelanmu jauh tanpa jejak. Akankah engkau sama dengan tukang becak yang lagi murung tentang global warming? Refleksikan kawan! Muhammad Fitrah Yunus Direktur Eksekutif LAMDISCT

Tidak ada komentar: