14 Nov 2008
Sibuk Dengan Rumah Orang, Lupa “Rumah” Sendiri!
Sibuk Dengan Rumah Orang, Lupa “Rumah” Sendiri!
Terpilihnya Barrack Obama menjadi presiden Amerika Serikat menjadi perbincangan banyak orang khususnya di Indonesia. Perlu adanya sebuah apresiasi atas kemenangan sang Senator, tapi jangan lupa tengok “rumah” sendiri.
Bergembiranya masyarakat dunia dengan terpilihnya Obama menjadi obat penenang masyarakat dunia. Banyak harapan yang diinginkan menuju transformasi masyarakat dunia yang berkemajuan. Transformasi yang merata tanpa deskriminasi, berpengaruh dan konsisten adalah klimaks dari berbagai ekspektasi. Namun apakah terpilihnya Obama dapat menyelesaikan persoalan di “rumah” kita sendiri?
Frame work Obama akan kaitannya dengan pemulihaan kembali citra Amerika Serikat (Image building) di mata dunia dapat dikatakan akan memberikan jawaban singkat rakyat AS. Bagaimana praksis dan respon masyarakat nanti belum diketahui akan seperti apa. Membangun citra sama halnya dengan mengobati juga membangun kejiwaan individu yang lama sakit. Maka sebuah tindakan nyata (real movement) sangat dinanti-nanti masyarakat dunia.
Antusisnya dunia mendengar terpilihnya Sang Senator menuntut terbentuknya kembali prisai demokrasi yang sejak lama kehilangan arah. Konflik-konflik yang terjadi di dunia tidak lagi diprovokasi oleh AS. Tidak ada lagi julukan “AS sang biang keladi” karena akan mencederai demokrasi itu sendiri.
Keindonesiaan kita mulai terprovokasi dengan terpilihnya Senator Barrack Obama. Alasan-alasan yang dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu jawaban mengapa pemerintah mendukung penuh (full-supporting) pencalonan Barrack Obama.
“Agenda mendesak dunia” meminta janji-janji Barrack Obama adalah sebuah keharusan. Pemulihan ekonomi di Amerika, penarikan pasukan Amerika di Afghanistan, dan hal-hal berhubungan dengan politik luar negeri Amerika yang melibatkan negara-negara menjadi as syaiu al wajib. Jika sebaliknya maka wajibu as syaiif (menghenuskan pedang) mungkin pilihan terakhir dunia.
Bagaimana Indonesia?
Bergantinya presiden Amerika serikat bukan berarti Indonesia juga menunggu pemimpin baru untuk menyelesaikan pekerjaan rumah pemerintah menyelesaikan agenda-agenda kesejahteraan umat. Kasus-kasus dalam negeri yang tak kunjung rampung harus menjadi prioritas utama negara ketimbang berbicara keadaan “rumah” (negara) orang lain.
Suatu kesenjangan awal biasa terjadi di Indonesia jika melihat suatu negara akan menjalankan agenda gerakan politik baru (new movement politics). Negara (pemerintah) cenderung ingin menunggu pemimpin baru dan lupa dengan masa bakti yang masih tersisa cukup lama.
Mengutip Caesa Reane “kita berada dalam hidup antara sudah dan belum. Yang kemarin sudah dilupakan dan yang baru belum dapat dicapai”. Sebuah kesalahan fatal jika ingin menunggu pemimpin baru dengan masa tenggang yang masih cukup lama. Haram, jika melupakan kewajiban yang masih dan harus diselesaikan.
Kita tidak perlu yakin akan kemenangan obama jika pengaruhnya terhadap negara berkembang seperti Indonesia tidak ada. Kenaikan Barrack Obama tidak akan menyelesaikan problema masyarakat Sidoarjo dengan lumpur lapindonya. Kenaikan Barrack Obama tidak akan menyelesaikan kericuhan supporter di persepakbolaan Indonesia, Barrack Obama tidak akan menghilangkan kemiskinan dan kebodohan di negeri ini. semua tanggung jawab negara. Jangan melamun melihat “rumah” orang. Pikirkan “rumah” sendiri.
Muhammad Fitrah Yunus
Direktur Eksekutif LAMDISCT
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar